VP Thanks for web oke

Terima Kasih

Setiap orang berhak memilih jalan mana yang akan dilaluinya.
Ada yang memilih jalan terjal, rata, berliku, berkerikil hingga jalan pintas. Inilah yang disebut qadar.
Namun, ada pula jalanan yang macet, berdebu, banjir, penuh paku berserakan, terkadang juga ada pohon tumbang karena badai.
Inilah sebabnya butuh teman yang membersamai untuk berjuang melaluinya.
Bukankah kita memiliki tujuan yang sama sehingga kita dipertemukan?
Dan beginilah cara Tuhan untuk mempertemukan.
Teruntuk, sahabat perjalanan.
Terima kasih telah bersedia membersamai. Saling membantu, saling mengulurkan tangan dan berpegangan, saling bertanya kabar,
saling menegur serta saling menerima.
Semoga kita segera mencapai tujuan itu dengan bersama-sama.
Terima kasih, sahabat.
awake on

We Do Marcomm

Munculnya banyak bisnis di Indonesia dewasa ini membawa angin segar di dunia entrepreneur di Indonesia. Hampir setiap hari muncul brand-brand baru. Dengan berbagai jenis bisnis yang dikemas secara menarik, menyesuaikan eranya. Era sosial media, trend penjualan online dan perubahan perilaku konsumen saat ini membuat munculnya brand-brand baik jasa maupun barang/produk latah untuk melakukan hal yang sama. Mereka memiliki keinginan yang bagus untuk menjadi “menjadi yang terbaik” di bidangnya. Ternyata menurut Michael Porter, Pakar Strategi dan Profesor di Harvard Business School, “menjadi yang terbaik” adalah strategi yang buruk. Porter mengatakan bahwa, “Sumber kesalahan terbesar dalam strategi adalah berkompetisi untuk menjadi yang terbaik dengan cara memilih jalan yang sama dengan semua pemain dalam industri dan berpikir bahwa Anda bisa mendapatkan hasil yang lebih baik”.

Adalah fakta di lapangan bahwa 88% perusahaan yang 50 tahun lalu ada dalam daftar Fortune 500 menghilang, raib ditelan bumi. Fakta kedua, bahwa life expectancy atau masa hidup sebuah perusahaan, yang lahir 50 tahun yang lalu adalah sampai dengan 75 tahun. Sekarang, life expectancy sebuah perusahaan yang lahir era saat ini berapa lama? Coba tebak!  Yaaaak… hanya 15 tahun saja dan itupun terus menurun. Apa sebabnya?

Karena ketika kita menginginkan untuk menjadi yang terbaik, maka akan terjebak di jalan yang sama, yang dilakukan oleh perusahaan sejenis. Bahasa bisnisnya adalah “Red Ocean”. Berdarah-darah… seluruh waktu, tenaga, dan finansial untuk bertarung di ladang yang sama. Semua berlomba untuk memiliki tampilan bagus, menarik, sedap dipandang, service yang istimewa dan memukau. Namun akhirnya terlihat generik. Dan kita tahu ketika kita fokus kepada kompetisi maka akan menggerus margin keuntungan.

Guru saya Indrawan Nugroho (co-founder Kubik) mengatakan

“Kompetisi cenderung membuat kita fokus pada satu kebutuhan spesifik yang dimiliki sekelompok orang di pasar. Lagi pula, bukankah memang itu yang dibutuhkan untuk menang bersaing? Akhirnya kita habiskan semua sumberdaya untuk bisa memenangkan persaingan merebut potongan kecil di pasar tersebut dari semua pesaing yang ada. Itulah persaingan sengit yang membuat kita berdarah-darah di saat yang sama membuat kita tak mampu melihat peluang lain di pasar yang lebih luas.”

Strategi terbaik menurut Poter adalah menjauh dari persaingan. Memilih pasar yang tidak dilihat pemain lain. Memenuhi kebutuhan yang tidak dilayani pesaing. Melakukan rangkaian aktivitas yang berbeda dari kebanyakan pemain di industri. Disitulah brand akan menemukan lautan biru yang ikannya masih banyak, dan belum ada nelayan yang nongkrong disitu mencari ikan. Manusia tidak akan habis akan kebutuhan.

Memilih untuk memiliki strategi jangka panjang dan jangka pendek adalah pilihan bagus untuk menjalankan sebuah brand. Brand baru yang banyak muncul saat ini dengan tampilan bagus memang membahagiakan kita. Sehingga tampak indah dan enak dipandang. Namun sesuatu yang terlihat bagus tidaklah cukup untuk bertahan. Strategi Marketing Komunikasi bagi UKM (Usaha Kecil dan Menengah) lebih lagi bagi UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) tampaknya masih sangat asing di telinga. Mendengar kata “strategi” saja seolah akan diberikan cara lama untuk menghasilkan dalam penjualan. Kata “Strategi” juga seolah membuat jalan bisnis menjadi rumit dan tidak simpel. Padahal justru dengan strategi markom yang kita miliki, bisnis akan mudah untuk dijalankan, nafas akan semakin panjang, termasuk untuk menyusun budget yang barangkali selama ini tiba-tiba habis untuk sesuatu yang tidak terprediksi hasilnya.

 

Bagaimana langkah-langkahnya? 

Untuk UKM lebih-lebih bagi UMKM, menggunakan cara sederhana jangka panjang & pendek bisa menjadi solusi. Tentukan Thematic (jangka panjang) campaign misalnya satu tahun. Kita temukan what to say nya apa. Apa yang ingin disampaikan termasuk bagaimana menyampaikannya (how to say). Saya pernah ditanya oleh calon klien saya.

“Gimana ya agar segera terjadi penjualan, cara mu kelamaan… masak mesti nunggu setahun trus terjadi penjualan… itu cara lama.”

Naaah ini yang kemudian saya jawab. Kita bisa menggunakan strategi tactical (jangka pendek) untuk merespon secara cepat kondisi di pasar. Seperti halnya brand activation, aktivitas untuk menggerakkan brand agar lebih dekat dengan konsumen, merasakan langsung experience produknya. Dengan menjalankan event tertentu dengan merespon tanggal merah atau hari libur nasional, atau kejadian apapun yang sedang terjadi baik hubungannya dengan berita terkini menyesuaikan target audiencenya. Baik online maupun offline. Baik strategi digital maupun analog. AISAS yang sering kita kenal sebagai Attention (A) – Interest (I) – Search (S) – Action (A) dan Share (S) bisa jadi, era nya sekarang tidak harus dengan proses berurutan seperti itu. Ketika Seseorang telah mendapatkan A bisa jadi langsung dia Share. Orang lain yang membeli, bahkan bukan dia. Kalau teori periklanan lama konsumen bisa kita atur sesuai dengan tahapan yang kita inginkan, sekarang konsumen yang mengatur. Konsumen memiliki strategi sendiri untuk membeli. Internet membuat dunia tampak flat, tidak ada sekat dan konsumen saat ini lebih cerdas.

Maka perpaduan Thematic dan Tactical saat ini adalah cara sederhana untuk melanggengkan sebuah brand. Dengan cara sederhana, dirembug bersama tim untuk menghasilkan formula sendiri yang akan dijalankan sendiri. Tentu akan lebih membahagiakan. Jalan menjadi lebih terbuka, pasar lebih terlihat, budget lebih tertata, dan aktivitas branding pun bisa lebih baik. Inilah hal  penting bagi pemilik brand untuk memiliki Marketing Communication Strategy.

 

 

Dimuat di dalam katalog resmi Pinasthika Creativestival 2016, November
@andikakerenlah

Untitled-1

The Strategic Planner

Apa itu Strategic Planner? Mungkin istilah tersebut masih terdengar asing di telinga orang awam. Sebenernya ketidaktahuan tersebut bisa dimaklumi, karena istilah ini memang baru populer digunakan di pertengahan tahun 2000. Namun, bagi Anda yang sudah berpengalaman di bidang marketing communication atau advertising agency, pasti merasa familiar dengan istilah itu. Ya, secara garis besar istilah ini merujuk pada bidang pekerjaan yang fokus dengan perancangan konsep strategi komunikasi pemasaran secara integratif.

Secara deskripsi pekerjaan, sebenarnya tanggung jawab posisi ini dahulu lebih akrab dipegang oleh orang-orang account management, khususnya Account Director dan Client Service Director yang bertanggung jawab atas strategic planning dan client servicing. Tapi seiring berjalannya waktu, dua tugas besar ini ternyata menyita banyak waktu, pikiran, dan energi. Frekuensi dan bobot kerja yang semakin meninggi membuat kedua pekerjaan ini menjadi mustahil untuk dikerjakan berbarengan. Akar masalah inilah yang akhirnya melahirkan satu posisi baru bernamakan Strategic Planner atau bisa juga disebut sebagai Stratplan.

Karena sifatnya yang terbilang masih baru, job description yang baku dari posisi ini pun belum ditentukan secara konsisten. Hal ini menyebabkan adanya variasi deskripsi pekerjaan di setiap biro iklan yang menyatutkan posisi Stratplan dalam susunan struktur organisasinya. Namun demikian, secara umum, rumusan ruang lingkup tanggung jawab seorang Stratplanner bisa digambarkan sebagai berikut:

  • Menganalisis brand profile klien beserta insights yang melingkupinya (market insights, consumer insights, competitor insights, dsb) secara komprehensif berdasarkan client brief yang sudah disusun oleh Account Executive
  • Mengidentifikasi tren pasar yang tengah berkembang
  • Merancang strategi komunikasi pemasaran integratif yang berkerangkakan pada brand analysis yang sudah dilakukan
  • Membuat creative brief berdasarkan rancangan strategi komunikasi yang telah dibuat sebagai visualisasi pesan komunikasi yang ingin dikampanyekan
  • Menjalankan proses briefing session dengan tim kreatif sekaligus mengarahkan konsep desain komunikasi visualnya
  • Melakukan creative review sebagai langkah pengecekan tentang ketersesuaian penerjemahan pesan komunikasi pada bahasa desain komunikasi visual yang telah dibuat oleh tim kreatif
  • Mempresentasikan rancangan desain komunikasi visual dan mengedukasi klien mengenai rekomendasi strategi komunikasi pemasaran yang diajukan
  • Melakukan koordinasi dan supervisi dengan klien mengenai implementasi rekomendasi langkah komunikasi pemasaran dalam suatu proses pendampingan
  • Menjadi wadah konsultasi bagi klien seputar masalah brand campaign

Jika dilihat dari rincian pekerjaan di atas, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa seorang Stratplanner berhubungan langsung dengan dua posisi, yaitu Account Executive dan Creative. Jika suatu struktur organisasi marcomm agency diibaratkan sebagai denah ruangan sebuah rumah, maka Account Executive adalah ruang tamu yang menjadi tempat untuk menerima tamu, yakni klien. Kemudian Stratplanner merupakan kamar tempat merumuskan strategi integrasi komunikasi pemasaran, sedangkan Creative adalah dapur untuk meramu desain komunikasi visualnya.

Dikarenakan pos Stratplanner  yang berada di tengah-tengah arus komunikasi antara Account Executive dan Creative, maka person in charge posisi ini setidaknya harus memiliki field of knowledge dari kedua bidang tersebut.  Ini dibutuhkan oleh Stratplanner agar ia bisa memahami proses yang tengah berlangsung dalam lalu lintas kerja sebuah tim. Bahkan di beberapa kasus pada agency yang memiliki jenjang struktur organisasi yang terbilang sempit, seorang Stratplanner juga kerap turun langsung dalam ranah pekerjaan yang berada di luar tanggung jawab posisinya, seperti copywriting, digital marketing, creative, dll.

Namun tentunya nilai inisiatif dalam merambah bidang-bidang pekerjaan tersebut juga harus dipagari oleh tanggung jawab utama Stratplanner agar tidak kehilangan fokus dalam bekerja, karena poin dari diciptakan posisi ini awalnya adalah justru supaya tidak terjadi pemecahan konsentrasi pada divisi terkait. Selain itu, hal ini juga perlu diiringi oleh kooperasi dari rekan-rekan setimnya. Jangan sampai praktik multitasking tersebut malah mengendurkan intensitas kerja dari rekan-rekannya yang lain, sehingga tidak ada keseimbangan proporsi hak dan tanggung jawab di antara masing-masing orang dalam satu proyek yang ditangani bersama-sama.

Terlepas dari segala problematika konsep multitasking yang menuntut adanya wawasan dan kapabilitas tambahan dari Stratplanner, pada intinya ia dituntut untuk memiliki kemampuan berpikir sistematis, kreatif, dan strategis. Berpikir sistematis berarti memikirkan segala sesuatu berdasarkan suatu metode tertentu secara runtut dan terstruktur, dari mulai proses analisis, sampai konsepsi rencana strategis, sehingga tertata pola hubungan yang saling koheren antara satu elemen dengan yang lainnya. Di sisi lain, berpikir kreatif dalam konteks strategic planning adalah suatu proses kontemplasi divergen yang dilakukan untuk menemukan insight baru agar tercipta keunikan pada sebuah model strategi yang dirancang, sehingga kampanye yang dilakukan terdiferensiasi dengan kompetitornya. Sedangkan berpikir strategis merupakan suatu aktivitas kognitif dalam mengartikulasikan gagasan taktis pada sebuah perencanaan integratif, baik itu untuk jangka pendek, maupun jangka panjang dengan segala dampak yang sudah ada pada kerangka perkiraan.

Sebagai konseptor, Stratplanner harus mampu membaca segala penjuru masalah yang mengelilingi brand yang sedang ditanganinya, baik itu dari segi kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan. Stratplanner diharuskan untuk dapat berpikir tidak hanya satu langkah, tapi juga dua sampai tiga langkah ke depan. Langkah pertama adalah berpikir bagaimana mendiagnosis masalah brand klien; langkah kedua ialah berpikir tentang seperti apa rekomendasi solusi serta implementasi langkah teknisnya; dan langkah ketiga adalah bagaimana perkiraan situasi yang akan dihadapi setelahnya dan seperti apa tindakan lanjutan yang harus diambil. Dengan kata lain, Stratplanner harus memiliki tiga orientasi berpikir, yaitu past oriented thinking, present oriented thinking, dan future oriented thinking.

Pada intinya, Stratplanner merupakan orang di balik layar, otak sebuah tim, dan ahli strategi yang berperan dalam merencanakan langkah-langkah strategis untuk mencapai tujuan tertentu. Mungkin hasil pekerjaan mereka tidak secara eksplisit dapat terlihat seperti produk visual yang diciptakan oleh Creative, namun efek branding yang tergambar pada kesuksesan holistik suatu brand akan mendefinisikan nilai seorang Stratplanner.

 

Penulis: Idham Hanafiah – Strategic Planner

 

 

Hero2 - Copy

Pahlawan Wakaf

Tahukah Anda apa yang menjadi sesuatu yang signifikan di tahun 2016 ini? Barangkali Anda yang mengikuti sirkulasi dunia sinema akan menyadari sesuatu bahwa tahun ini adalah tahunnya superhero. Ya, dengan agenda rilis film pada 2016 yang disesaki oleh film-film bertemakan pahlawan super, rasanya sah-sah saja bila anggapan tersebut berkembang di kalangan masyarakat.

Deadpool (Marvel), Batman vs Superman: Dawn of Justice (DC), serta Captain America: Civil War (Marvel) adalah segelintir contoh film hasil adaptasi dari produsen komik-komik kenamaan Amerika, yaitu Marvel dan DC Comics. Kepopuleran cerita fiktif ini seolah menyiratkan bahwa di dalam lubuk hati  yang paling dalam kita mendambakan sesosok pahlawan yang senantiasa menolong orang-orang lemah.

Sepertinya konsep pahlawan dalam komik yang kebanyakan dideskripsikan sebagai karakter berkekuatan super telah menggeser pandangan mata kita terhadap pahlawan-pahlawan di dunia nyata. Mungkin kita tidak sadar bahwa masing-masing dari diri manusia telah dititipi peran sebagai pahlawan. Sejak lahir kita telah diberi amanah oleh Allah swt. untuk saling tolong-menolong. Mereka yang sepatutnya kita tolong adalah orang-orang yang lemah, yang bernasib kurang beruntung, dan pastinya yang membutuhkan pertolongan dari saudara-saudaranya yang lebih mampu.

Ada banyak usaha yang bisa kita lakukan untuk membantu mereka, salah satunya adalah dengan berwakaf. Dengan berwakaf, kita bisa menyerahkan harta benda guna dimanfaatkan oleh orang lain yang membutuhkan dalam jangka waktu tertentu atau untuk selamanya. Pemberian manfaat ini tentunya sangat berguna bagi kelangsungan hidup mereka.

Adalah BWA atau Badan Wakaf Al-Qur’an yang berperan sebagai lembaga perantara bagi wakif yang ingin memberikan bantuannya kepada penerima wakaf. BWA merupakan salah satu klien Syafa’at yang tengah digarap marcomm-nya (marketing communication). Jika BWA adalah pahlawannya, maka Syafa’at adalah sekutunya. Syafa’at adalah Batman bagi Superman yang membentuk suatu kekuatan gabungan untuk menegakan keadilan. Syafa’at lah yang memberikan dukungan penuh untuk memenuhi visi BWA dalam menjadi lembaga filantropi yang mampu mengembangkan potensi wakaf untuk kemaslahatan ummat.

Di sini Syafa’at berperan dalam memberikan rekomendasi strategi marcomm sebagai konstelasi tahapan-tahapan komunikasi pemasaran yang akan dijalankan oleh BWA. Tahapan-tahapan ini kemudian akan dipetakan ke jalur komunikasi online dan offline sesuai dengan konsep yang telah dibuat oleh tim Strategic Planner. Syafa’at juga menyuplai senjata-senjata komunikasi berupa produk kreatif yang merupakan hasil kreasi dari tim Creative untuk mendukung kegiatan BWA di medan perang. Kemudian bahan-bahan tersebut disampaikan oleh Account Executive kepada BWA. Pada ujung proses inilah BWA akan mengimplementasikan semua arahan Syafa’at dalam menyuarakan ajakan kepada masyarakat untuk berwakaf.

Kerja sama ini menciptakan dampak kontribusi oleh BWA dan Syafa’at yang tidak hanya berkonsentrasi dalam pemberdayaan kesejahteraan ummat, tapi juga menyalakan peran pahlawan dalam diri masing-masing wakif. Tentu kemunculan pahlawan dalam diri kita sangat diharapkan oleh mereka. Bayangkan tentang apa yang bisa mereka dapatkan dari pertolongan kita. Mereka yang sakit bisa kembali sehat, mereka yang putus sekolah bisa kembali belajar, mereka yang pengangguran bisa kembali produktif, ada banyak nilai positif yang lahir dari aksi kepahlawanan kita.

Tentunya ini tidak hanya memberikan aliran kebaikan terhadap si penerima wakaf, tapi juga bagi wakifnya sendiri, karena pahala yang didapat akan mengalir abadi. Inilah suatu kesempurnaan pahlawan dalam dunia yang sebenarnya.

 

Tulisan dan Ilustrasi oleh: Idham Hanafiah – Strategic Planner

 

 

2

What You Say Is What You Are

Untuk memancarkan energi yang tinggi dalam membangun hubungan dengan target audience, beri mereka kekuatan penuh dari pesan brand yang Anda miliki, karena apa yang Anda katakan dan lakukan akan menegaskan siapa brand Anda sebenarnya.

Energi sebuah brand dapat diukur berdasarkan tingkat intensitas dan antusiasme  yang diperlihatkan saat berinteraksi dengan sasaran audiens. Bagaimana Anda menyampaikan pesan dan bagaimana audiens menerima informasi tersebut adalah refleksi kekuatan yang Brand Anda pancarkan. Tentunya pesan komunikasi yang generik seperti “Bergabunglah dengan kami”, “Kami ingin berbisnis dengan Anda”, atau “Kami memiliki apa yang anda inginkan” sangat tidak mencerminkan apa yang dimaksud dengan pesan komunikasi yang kuat. Coba apa yang Anda rasakan ketika medapatkan pesan seperti itu? Apakah pesan tersebut mampu meninggalkan jejak di benak Anda? Atau Anda hanya menjadi persinggahan sementara saja bagi pesan yang tidak berkesan itu. Pada dasarnya sebuah komunikasi yang ideal perlu dipastikan bahwa pesan yang disampaikan harus mengarah ke sasaran yang tepat, di tempat yang tepat, dan pada waktu yang tepat. Kreatifitas komunikasi yang tidak mengalihkan perhatiannya dari pesan yang dimaksud merefleksikan tingkat pemahaman audiens mengenai brand Anda. Hal tersebut juga menggambarkan bahwa pesan yang disampaikan sudah sesuai dengan positioning yang ingin diciptakan, sehingga asosiasi brand yang dimiliki mampu menghantarkan efeknya agar bisa memotivasi calon konsumen untuk mempertimbangkan pembelian produk Anda. Oleh karena itulah diferensiasi pesan komunikasi menjadi sangat penting di sini.

Sebagai contoh, kita coba telaah Batik Trusmi, yaitu salah satu klien yang sedang digarap oleh Syafa’at Marcomm. Batik Trusmi adalah sebuah brand yang ingin mengomunikasikan kekayaan budaya lokal nusantara. Visi ini digagas oleh owner muda yang mempunyai kepedulian dan idealisme yang tinggi dalam berkontribusi untuk memajukan daerahnya. Bila kita lihat dari namanya, “Batik Trusmi” memiliki konsep identitas yang umum digunakan oleh brand yang membawa label daerah seperti “Batik Jogja”, “Batik Solo”, atau “Batik Pekalongan”. Tentunya pencantuman unsur yang menunjukan nama daerah sudah terlalu generik digunakan di industri kreatif seperti ini. Imbasnya adalah banyaknya pemain bisnis sejenis yang menggunakan unsur nama yang sama. Nama “Batik Trusmi” pun menjalar digunakan oleh produsen-produsen batik di tanah Cirebon. Niat kata ingin menyoroti identitas daerah, namun apa daya yang ada adalah brand kehilangan identitas diri sendiri.

Pada akhirnya berdasarkan hasil diskusi dengan tim Syafa’at Marcomm, Batik Trusmi sepakat untuk meleburkan kata pada nama brand menjadi sebuah akronim, yakni “BT”. Nama ini pun praktis menjadi brand discriminator atau pembeda dengan kompetitor di ruang lingkup bisnis yang serupa.

Tidak berhenti sampai di situ, Syafaat juga memberikan rekomendasi mengenai tema pesan komunikasi yang ingin dikampanyekan selama satu tahun. Hal ini didasari oleh analisis komunikasi pemasaran sesuai dengan poin yang sudah dipaparkan pada alinea sebelumnya, yaitu bagaimana kekuatan pesan komunikasi dapat mempengaruhi proses pertimbangan pembelian oleh calon komunikasi. Akhirnya dari proses olah pikir yang dilakukan oleh tim Strategic Planner, maka mengerucutlah ide besar topik pesan komunikasi klien menjadi satu frasa tematik BT, yaitu “Always Batik”. Kata “Always Batik” diangkat untuk mengomunikasikan bahwa batik dapat dipakai oleh siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Komunikasi ini bertujuan untuk menghapuskan persepsi umum bahwa batik hanya dipakai oleh kalangan strata atas di tempat dan waktu yang formal saja. Batik adalah warisan budaya bangsa yang merupakan cerminan dari keindahan yang bisa dikenakan oleh siapa pun dalam setiap kesempatan dan momen sehari-hari. Ini menjadi suatu momentum bagi BT  yang hadir dengan keindahan baru dalam balutan semangat kecintaan budaya Indonesia.

Di samping dengan ide tema yang diusung, Syafa’at juga mengusulkan sebuah tagline yang dapat merepresentasikan muatan profil yang ingin ditonjolkan oleh BT mengenai segmen produk yang tidak hanya terbatas pada batik saja, tapi juga oleh-oleh khas Cirebon lainnya seperti aksesoris dan makanan ringan. Dari ringkasan ragam produk yang ditawarkan itulah akhirnya muncul kata “Terbesar dan Terlengkap” yang bermakna bahwa BT merupakan pusat destinasi produk-produk buah tangan khas lokal yang paling terbesar dan terlengkap di Cirebon.

Dari contoh kasus tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa strategi bisnis tidak hanya menyoal pada bagaimana kita menyuapi calon konsumen dengan distribusi produk secara luas saja, tapi juga bagaimana kita mengomunikasikan brand agar tercipta engagement dengan mereka. Ingat, pesan komunikasi pada strategi kampanye menunjukan brand positioning kita di mata target audience, because WHAT YOU SAY IS WHAT YOU ARE!

Kontributor:

  • Jhejhe – Account Executive
  • Idham Hanafiah – Strategic Planner