rsz_1poster

Speak to Change

Jalan semakin bercabang, teman seperjalanan pun kian beragam, kali ini tim Syafa’at berkesempatan untuk menangani program kampanye acara besutan Akademi Trainer. Ini merupakan acara grand launching untuk buku Jamil Azzaini yang bertajuk sama dengan nama event, yakni Speak to Change.

Speak to Change sendiri merupakan acara yang tidak hanya sekedar peluncuran buku semata, melainkan juga talkshow yang mengangkat seni atau kompetensi berbicara sebagai topik pembahasan. Event yang diseleggarakan pada 28 Oktober 2015 di Hotel Mercure, Hayam Wuruk, Jakarta Barat ini mengundang para trainer ternama sebagai pengisi acara, di antaranya adalah Fay Irvanto dan Adriano Giovani sebagai narasumber talkshow, serta Harri Firmansyah sebagai host.

Dalam proyek ini Syafa’at berperan sebagai agensi yang memberikan produk marcomm secara terintegrasi, dari mulai pembuatan desain komunikasi visual sampai penerapan strategi online campaign-nya. Seperti biasa, Syafa’at melibatkan seluruh tim dalam proses produksi konsep strategi komunikasi pemasarannya, dari mulai Account Executive yang menghimpun informasi dan membaca kebutuhan klien, Strategic Planner yang menganalisis masalah dan menyusun rancangan strategi komunikasinya, sampai Creative yang menerjemahkan creative brief menjadi produk jadi.

Syafa’at mencoba sebisa mungkin untuk menarik awareness audiens dalam kampanyenya. Beberapa strategi digital campaign diimplementasaikan untuk dapat meningkatkan efektivitas komunikasi Speak to Change dari mulai visual post berkonsep meme, motion graphic, teaser video acara, hingga post boosting. Di samping aktivitas pra-acara, Syafa’at juga mendukung penuh kegiatan saat event diselenggarakan dengan mereportase jalannya acara.

Secara umum, penanganan proyek ini terbilang sukses. Jumlah peserta yang melewati target adalah tanda bahwa Syafa’at sebagai agensi komunikasi pemasaran integratif telah berhasil dalam menjalankan tugasnya. Di sisi lain, Speak to Change pun telah sukses menghantarkan pengaruhnya kepada para peserta. Hal ini dapat terlihat dari antusiasme peserta, baik itu dari segi keikutsertaannya, maupun partisipasi aktif mereka saat mengikuti acara. Ini merupakan kesuksesan tim yang tidak hanya diraih berkat kontribusi kerja sama antara Akademi Trainer dan Syafa’at Marcomm semata, tapi juga keseluruhan pihak yang terlibat, dari mulai Butterly Act sebagai event organizer, para trainer yang mengisi acara, affiliates, sponsor-sponsor, mitra penyedia venue, dan lain sebagainya.

Hore untuk semuanya!

Penulis: Idham Hanafiah – Strategic Planner

 

wajan pinasthika2015

Dari Hero Turun ke Hore

Kalau ditanya tentang superhero, siapa superhero yang paling terkenal? Hampir pasti jawabannya adalah Superman. Siapa sih yang tidak kenal dengan Superman? Dari awal figur ini diciptakan sampai sekarang pun pahlawan fiksi ini tetap terkenal diantara superhero-superhero yang lain. Dari komik, film, maupun pernak-pernik dengan logo S yang semua orang pasti mengenalnya.

Waktu kecil pun saya benar-benar mengidolakan Superman. Sambil berandai-andai, apa yang bisa dan akan saya lakukan jika punya kekuatan seperti itu. Pasti segala permasalahan akan selesai dengan sangat mudah. Dan ketika saya melihat film Superman pertama kalinya yang diperankan oleh Christopher Reeve lewat video Betamax, di situlah kebahagiaan terbesar yang pernah kurasakan di tahun 80-an. Meskipun yang kuingat saat itu nontonnya ngintip-ngintip lewat jendela berebut bersama anak-anak seusiaku di rumah orang berada.

Film ini menjadi box office dan meraup jutaan dollar, impact-nya pun sampai ke tanah air. Semua pada demam Superman, dari sampul buku tulis se-stationary kit-nya, stiker, pin, kaos, topi, packaging waffer coklat, sampai sabun pun ngasih hadiah komik mini Superman. Visual efek dalam adegan film ini tentunya masih kalah jauh dengan film-film sekarang, namun film ini mampu membuat orang percaya bahwa ternyata manusia bisa terbang. Lebih-lebih pada anak kecil macam saya yang mudah dikibulin. Film ini terus terang mampu memberikan kebahagiaan bagi saya, bahkan kalau dibandingkan dengan film Superman yang sekarang. Para kritikus film pun sepakat bahwa sampai saat ini tak ada yang bisa menggantikan Christopher Reeve sebagai pemeran Superman. Christopher Reeve yang notabene bukan aktor terkenal, mampu memerankan Superman dengan sempurna.

Christopher Reeve is the Real Superman! Sekalipun malapetaka menimpa dirinya di tahun 1995. Reeve lumpuh akibat cedera yang dialaminya sewaktu mengikuti perlombaan Olahraga berkuda lintas alam. Banyak yang menganggap bahwa ini adalah kutukan bagi pemeran Superman. Karena pemeran-pemeran sebelumnya hidupnya dibayang-bayangi oleh musibah, kecelakaan, bahkan ada yang bunuh diri. Sebagai ikon superhero terkenal, Reeve tidak menganggap musibah ini sebagai kutukan. Bersama Dana istrinya, dia mendirikan Christopher Reeve Foundation yang menangani penelitian sel induk dan sebagai juru bicara penderita cedera tulang belakang.

Majalah People weekly dalam 25 tahunnya, memasukkan Christopher Reeve ke dalam daftar special anniversary issue. Upayanya yang tak kenal lelah dalam menggalang dana untuk penelitian dan mungkin suatu hari nanti ditemukannya obat untuk kelumpuhan. “Sepertinya Tuhan mengirim Chris untuk melakukan ini karena keteguhan hatinya, kepeduliannya, dan perjuangannya” kata sahabat karib dan sesama aktor Mandy Patinkin di majalah People. “Bahkan Superman pun tak bisa melakukannya.” Ironi yang luar biasa telah mengantarkan Reeve dari ikon hero dalam sebuah karya fiksi menjadi hero sejati bagi penderita kelumpuhan tulang belakang dengan yayasan yang didirikannya. Meski sisa hidupnya dihabiskan di atas kursi roda, Reeve tak perlu menjadi Superman untuk bisa menolong para penderita kelumpuhan.

Christopher Reeve meninggal dunia pada 10 Oktober 2004 di usia 52 tahun akibat serangan jantung yang disebabkan infeksi yang meluas. Namun figurnya sebagai Superman sejati tak akan pernah mati.

When the first Superman movie came out, I gave dozens of interviews to promote it. The most frequent question was: What is a hero? My answer was that a hero is someone who commits a courageous action without considering the consequences. Now my definition is completely different. I think a hero is an ordinary individual who finds the strength to persevere and endure in spite of overwhelming obstacles. They are the real heroes, and so are the families and friends who have stood by them.  ~ Still Me (1999)

Dari kisah inspiratif ini sebenarnya bisa diambil hikmahnya ke dalam tema gelaran Pinasthika ke-16. “From Hero to Hore” mengandung arti bahwa, tak perlu memiliki kekuatan superhero untuk berbuat kebaikan. Hero sejati bukan diukur dari kekuatannya, tapi kemampuannya untuk bisa memberikan kebahagiaan bagi orang lain. Kreativitas yang ada di dalam diri kita-lah yang sepatutnya menjadi kekuatan nyata untuk menciptakan kebahagiaan.

Siapa saja bisa menjadi hero bagi siapa saja. Dan semuanya bisa dimulai dari yang terdekat, dengan memberikan kebahagiaan-kebahagiaan kecil. Sebagai seorang ayah, saya pun berusaha menjadi hero bagi anak saya. Mengasuh anak itu beratnya minta ampun! Diperlukan lebih dari kekuatan seorang hero. Tak hanya menjaga, tapi membesarkan-nya dengan kebahagiaan dan kasih sayang.

Di sekitar kita banyak sekali ruang untuk menyebarkan kebahagiaan. Ada yang bergerak melalui media sosial untuk menolong orang sakit dengan ide bersedekah bareng-bareng. Ada yang mendirikan perpustakaan gratis bagi anak-anak jalanan dengan ide donasi buku bekas. Bahkan ada yang cuma bermodalkan keikhlasan untuk melakukan kebaikan-kebaikan kecil. Percayalah, kreativitas itu akan berkembang dengan sendirinya jika niatannya ikhlas. Mudah saja kan?

Apalagi di era sekarang dimana perkembangan teknologi dan informasi menjadikan semuanya menjadi sangat cepat dan mudah. Jika Superman benar-benar ada, saya rasa dia akan kalah dengan kecepatan informasi. Superman mempunyai kecepatan melebihi kecepatan peluru, namun sekarang orang bisa dengan sangat mudah menggalang dukungan hanya dengan hastag ‘#’. Superman punya penglihatan X-ray yang bisa melihat tembus apa pun, namun masih kalah cepat dengan mesin pencari Google. Keberadaan Superman di era digital mungkin sudah tidak diperlukan lagi selain tokoh fiksi. Toh, anak kecil sekarang sudah tidak heran lagi melihat yang terbang-terbang kayak gituan. Imajinasinya seolah sudah terpenuhi oleh efek-efek CGI. Saya termasuk orang yang sangat bersyukur dilahirkan di tahun 80-an :)

Salam Hore!

Ogut (nama disamarkan) Fans berat Superman

*)Ditayangkan di Katalog Pinasthika 2015, Syafa’aat Marcomm Agency Partner Pinasthika 2013, 2014, 2015

 

pinasthika2015

Two Bronzes to Glory

Apa yang menjadi simbol pencapaian dari jerih payah yang telah kita lakukan? Sebelum melanjut lebih jauh, tentunya maksud “kita” di sini merujuk pada sebuah agensi komunikasi pemasaran di mana hal tersebut sesuai dengan konteks komunikator dari tulisan ini, yaitu Syafa’at Marcomm. Meneruskan pada pertanyaan tersebut, ada banyak hal yang muncul dalam pikiran di samping tentunya nilai kontrak sebuah proyek atau sebatas kepuasan klien yang disampaikan secara verbal. Apresiasi atau penghargaan adalah salah satu bentuk pencapaian yang diberikan oleh pihak netral dan kompeten kepada insan-insan kreatif di industri ini. Berhubungan dengan kata pengantar inilah penulis ingin membagi sebuah pengalaman berharga bagi Syafa’at yang telah menerima penghargaan terkait untuk yang kesekian kalinya yang menunjuk pada judul tulisan ini, yaitu Two Bronzes to Glory.

Two Bronzes to Glory menggambarkan sebuah pencapaian Syafaat Marcomm dalam malam penganugerahan Pinasthika edisi ke 16 pada 19 September 2015. Pada acara yang dihelat di Taman Budaya Yogyakarta ini tim Syafa’at diganjar dua penghargaan sekaligus, yakni piala perunggu dalam kategori Bawana untuk masing-masing karya TVC Simply Fresh Laundry dan Brand Activation Waroeng Steak and Shake.

Seperti yang tertera pada judul di atas, dua pengahargaan ini merupakan simbol motivasi bagi Syafa’at agar bisa terus menghasilkan karya-karya terbaiknya di masa depan. Kata “Glory” di sini bukanlah suatu ungkapan yang menyiratkan makna denotatif dari kejayaan sebagai akhir dari perjalanan Syafaat dalam berkarya. Tidak ada kepuasan dalam kejayaan, pencapaian hari ini bukanlah destinasi akhir, melainkan sebuah check point menuju hari-hari kejayaan berikutnya di masa mendatang. Meskipun begitu, tentunya hal ini tidak menyurutkan nilai apresiasi yang telah didapat oleh kawan-kawan dari tim Syafaat. Kata kuncinya adalah “Two”. “Two” atau “dua” merupakan cerminan dua sisi atas pencapaian ini. Sisi yang pertama menjelaskan bahwa pencapaian ini merupakan cerminan motivasi dalam berkarya untuk bisa meraih penghargaan-penghargaan selanjutnya. Sedang sisi yang kedua adalah pencapaian sebagai refleksi dari nilai juang, pengorbanan, dan jerih payah tim yang melatarbelakangi alasan mengapa kita memang pantas untuk mendapatkan penghargaan tersebut.

Well, in the end, this is not THE END, this is just THE BEGINNING.

Congrats, all!

Penulis: Idham Hanafiah – Strategic Planner

 

 

 

pinasthika BRONZE SIMPLY2015

Don’t Bring Your Laundry Problem Home!

Cucian bagi sebagian orang merupakan hal yang remeh. Namun demikian, hal remeh sekecil apapun itu pun bukan tidak mungkin dapat membuka selubung masalah bagi kita. Problematika inilah yang coba diangkat oleh Syafa’at ketika dipercaya untuk menangani program TVC dari Simply Fresh Laundry.

Simply Fresh Laundry merupakan sebuah service provider yang memiliki ruang lingkup usaha di bidang jasa binatu. Melihat pada ranah usahanya, tim Syafa’at berupaya untuk mengangkat masalah inefisiensi kegiatan cuci-menyuci pakaian yang kerap dihadapi oleh orang. Kegiatan menyuci pakaian yang biasa dikesampingkan karena masalah kurangnya ketersediaan waktu sering sekali menghambat aktivitas kita. Imbasnya tentu adalah menumpuknya pakaian kotor yang justru dibutuhkan kondisi bersihnya untuk menunjang kebutuhan sandang kita. Atas dasar hal inilah tim Syafa’at mencoba untuk menjaring perhatian calon konsumen dengan menggerakan kampanye brand melalui TVC.

Penggunaan TVC sendiri untuk kampenye brand yang bergerak di bidang usaha ini termasuk jarang digunakan. Adapun media yang sering dimainkan oleh pemain bisnis ini adalah print ad atau social media content seperti poster dan brosur digital. Alasannya adalah faktor efisiensi produksi yang berujung pada daya finansial yang harus dikucurkan oleh klien kepada vendor. Faktor keberanian dan kreativitas di sinilah yang menjadi pembeda bagi Simply Fresh Laundry dan Syafa’at dengan kompetitor lain. Tentunya keberanian di sini juga harus ditopang dengan pertimbangan rasional, yaitu untuk mendapatkan awareness yang lebih kuat dibanding menggunakan media-media cetak konvensional.

Melanjutkan pada latar belakang tersebut, tim Syafa’at akhirnya menggiatkan usahanya dalam menggarap produk TVC untuk pengomunikasian pesan dari Simply Fresh Laundry yang dimulai dengan penulisan skenario video. Dengan tema olahraga basket, tim mencoba menggambarkan bagaimana urusan baju kotor dapat menghambat kegiatan kita. Setelah proses penulisan selesai, skenario tersebut diterjemahkan ke dalam produk video. Proses syutingnya sendiri dilakukan pada 28 Agustus 2015 di lapangan basket rumahan. Konsep simpel yang dibalut dengan gaya komedi ini diaplikasikan untuk penyampaian pesan yang mudah dalam nuansa hiburan. Dalam implementasi program ini, tim Syafa’at berusaha untuk mengomunikasikan suatu pesan bahwa beban cucian bukanlah penghambat bagi kita untuk menikmati aktivitas di waktu luang, karena pada satu konteks situasi yang sama terdapat Simply Fresh Laundry yang siap menjadi solusi atas persoalan pakaian kotor terkait. Secara singkat, pesan ini disimpulkan melalui untaian frasa “Jangan Bawa-Bawa Urusan Cucian, Plis!” yang ditamplikan di akhir storyline. Pesan inilah yang dimaksudkan tim untuk dikomunikasikan ke khalayak.

So, please! Don’t bring your laundry problem home!

Penulis: Idham Hanafiah – Strategic Planner

tobacco

Knock Out Your Tobacco!

Dalam rangka memeringati hari bebas asap rokok, kali ini Syafa’at Marcomm berkesempatan untuk menangani kampanye antirokok yang diusung oleh Waroeng Steak And Shake. Dengan mengangkat konsep performing art, tim Syafa’at mecoba memasukan ide teatrikal bertemakan pertarungan yang terinspirasi oleh momentum eforia “Tinju Abad Ini” antara petinju Floyd Mayweather dan Manny Pacquiao. Pertarungan yang tengah menjadi pembicaraan hangat ini dianalisis mampu memberikan efektivitas komunikasi pada aktivitas kampanye melalu dampak kekuatan topik dalam mengambil perhatian khalayak. Untuk dapat mendukung penyuaraan subjek tema ini, tim Syafa’at sengaja mengatur penempatan jadwal acara supaya bisa bertepatan dengan hari Car Free Day, tepatnya pada Minggu, 31 Mei 2015. Hal ini didasarkan pada alasan agar tim bisa memanfaatkan konsentrasi keramaian khalayak yang berpusat di spot Car Free Day.

Konsep performing art yang bertemakan pertarungan tinju ini sendiri menampilkan dua peran utama yang mewakili dua objek yang berkaitan langsung dengan isu yang diangkat, yaitu tobacco/rokok dan paru-paru. Konsep ini diimplementasikan dengan memunculkan partisipan yang memakai kostum tobacco dan paru-paru ditambah satu orang berkostum wasit yang memainkan peran sebagai pengadil ring.

Instumen pendukung untuk aksi ini di antaranya adalah kostum tobacco dan paru-paru yang terbuat dari spons ati, kostum wasit, triangle bell, megaphone (TOA), bangku kecil, sound system, dan beberapa kamera yang dibagi untuk meliput performing art, interview dengan audiens, serta reaksi khalayak yang diambil secara candid.

Aktivasi program ini dijalankan sesuai dengan skenario yang telah disusun oleh tim. Selayaknya gelaran tinju, dalam skenario ini digambarkan seorang wasit yang memerkenalkan dua petarung, yaitu Tobacco dan Paru-Paru. Dengan diringi oleh dentuman lagu “Eye of Tiger” dari Survivor, keduanya terlibat pertarungan sengit khas pertandingan tinju kelas dunia. Skenario pertarungan ini pun diakhiri oleh kemenangan si Paru-Paru dalam perlawanannya terhadap Tobacco. Akhir dari aksi performing art ini adalah penyampaian pesan utama dari kampanye yang dilakukan oleh sang wasit saat menutup pertandingan tinju. Sambil mengangkat papan sign bertuliskan “Jangan Mau di K.O. Tobacco”, wasit mencoba mengomunikasikan suatu pesan agar masyarakat mau menjauhi kebiasaan merokok. Kemudian tulisan “Throw your Tobacco!”, “Hari Bebas Rokok”, dan logo Waroeng Steak And Shake yang tertera di sisi belakang papan sign tersebut pun menjadi penjelas atas pesan utama serta siapa komunikator yang mengangkat topik ini.

Salah satu poin kunci dari acara ini adalah keterlibatan langsung audiens yang dapat berpartisipasi dan berinteraksi dengan tokoh-tokoh seperti Tobacco, Paru-Paru, dan wasit. Seolah menjadi cameo dalam sebuah film, nantinya audiens akan ikut merayakan kemenangan sang Paru-Paru atas Tobacco. Aksi selfie dan camcorder pun menjadi pelengkap atas program kampanye. Dengan pelampir pesan dari bentuk memorabilia audio-visual tersebut, penggerakan aktualisasi pesan pun dioptimalkan dengan e-blast hashtag #KOyourTobacco melalui media sosial.

Sebagai penutup, penulis juga tidak ingin ketinggalan mengajak para pembaca untuk meninggalkan kebiasaan merokok, karena paru-paru kita bukanlah asbak yang senantiasa menjadi tempat bersantai bagi para rokok.

So let’s knock out your tobacco before it knocks you out!

Penulis: Idham Hanafiah – Strategic Planner