wajan pinasthika2015

Dari Hero Turun ke Hore

Kalau ditanya tentang superhero, siapa superhero yang paling terkenal? Hampir pasti jawabannya adalah Superman. Siapa sih yang tidak kenal dengan Superman? Dari awal figur ini diciptakan sampai sekarang pun pahlawan fiksi ini tetap terkenal diantara superhero-superhero yang lain. Dari komik, film, maupun pernak-pernik dengan logo S yang semua orang pasti mengenalnya.

Waktu kecil pun saya benar-benar mengidolakan Superman. Sambil berandai-andai, apa yang bisa dan akan saya lakukan jika punya kekuatan seperti itu. Pasti segala permasalahan akan selesai dengan sangat mudah. Dan ketika saya melihat film Superman pertama kalinya yang diperankan oleh Christopher Reeve lewat video Betamax, di situlah kebahagiaan terbesar yang pernah kurasakan di tahun 80-an. Meskipun yang kuingat saat itu nontonnya ngintip-ngintip lewat jendela berebut bersama anak-anak seusiaku di rumah orang berada.

Film ini menjadi box office dan meraup jutaan dollar, impact-nya pun sampai ke tanah air. Semua pada demam Superman, dari sampul buku tulis se-stationary kit-nya, stiker, pin, kaos, topi, packaging waffer coklat, sampai sabun pun ngasih hadiah komik mini Superman. Visual efek dalam adegan film ini tentunya masih kalah jauh dengan film-film sekarang, namun film ini mampu membuat orang percaya bahwa ternyata manusia bisa terbang. Lebih-lebih pada anak kecil macam saya yang mudah dikibulin. Film ini terus terang mampu memberikan kebahagiaan bagi saya, bahkan kalau dibandingkan dengan film Superman yang sekarang. Para kritikus film pun sepakat bahwa sampai saat ini tak ada yang bisa menggantikan Christopher Reeve sebagai pemeran Superman. Christopher Reeve yang notabene bukan aktor terkenal, mampu memerankan Superman dengan sempurna.

Christopher Reeve is the Real Superman! Sekalipun malapetaka menimpa dirinya di tahun 1995. Reeve lumpuh akibat cedera yang dialaminya sewaktu mengikuti perlombaan Olahraga berkuda lintas alam. Banyak yang menganggap bahwa ini adalah kutukan bagi pemeran Superman. Karena pemeran-pemeran sebelumnya hidupnya dibayang-bayangi oleh musibah, kecelakaan, bahkan ada yang bunuh diri. Sebagai ikon superhero terkenal, Reeve tidak menganggap musibah ini sebagai kutukan. Bersama Dana istrinya, dia mendirikan Christopher Reeve Foundation yang menangani penelitian sel induk dan sebagai juru bicara penderita cedera tulang belakang.

Majalah People weekly dalam 25 tahunnya, memasukkan Christopher Reeve ke dalam daftar special anniversary issue. Upayanya yang tak kenal lelah dalam menggalang dana untuk penelitian dan mungkin suatu hari nanti ditemukannya obat untuk kelumpuhan. “Sepertinya Tuhan mengirim Chris untuk melakukan ini karena keteguhan hatinya, kepeduliannya, dan perjuangannya” kata sahabat karib dan sesama aktor Mandy Patinkin di majalah People. “Bahkan Superman pun tak bisa melakukannya.” Ironi yang luar biasa telah mengantarkan Reeve dari ikon hero dalam sebuah karya fiksi menjadi hero sejati bagi penderita kelumpuhan tulang belakang dengan yayasan yang didirikannya. Meski sisa hidupnya dihabiskan di atas kursi roda, Reeve tak perlu menjadi Superman untuk bisa menolong para penderita kelumpuhan.

Christopher Reeve meninggal dunia pada 10 Oktober 2004 di usia 52 tahun akibat serangan jantung yang disebabkan infeksi yang meluas. Namun figurnya sebagai Superman sejati tak akan pernah mati.

When the first Superman movie came out, I gave dozens of interviews to promote it. The most frequent question was: What is a hero? My answer was that a hero is someone who commits a courageous action without considering the consequences. Now my definition is completely different. I think a hero is an ordinary individual who finds the strength to persevere and endure in spite of overwhelming obstacles. They are the real heroes, and so are the families and friends who have stood by them.  ~ Still Me (1999)

Dari kisah inspiratif ini sebenarnya bisa diambil hikmahnya ke dalam tema gelaran Pinasthika ke-16. “From Hero to Hore” mengandung arti bahwa, tak perlu memiliki kekuatan superhero untuk berbuat kebaikan. Hero sejati bukan diukur dari kekuatannya, tapi kemampuannya untuk bisa memberikan kebahagiaan bagi orang lain. Kreativitas yang ada di dalam diri kita-lah yang sepatutnya menjadi kekuatan nyata untuk menciptakan kebahagiaan.

Siapa saja bisa menjadi hero bagi siapa saja. Dan semuanya bisa dimulai dari yang terdekat, dengan memberikan kebahagiaan-kebahagiaan kecil. Sebagai seorang ayah, saya pun berusaha menjadi hero bagi anak saya. Mengasuh anak itu beratnya minta ampun! Diperlukan lebih dari kekuatan seorang hero. Tak hanya menjaga, tapi membesarkan-nya dengan kebahagiaan dan kasih sayang.

Di sekitar kita banyak sekali ruang untuk menyebarkan kebahagiaan. Ada yang bergerak melalui media sosial untuk menolong orang sakit dengan ide bersedekah bareng-bareng. Ada yang mendirikan perpustakaan gratis bagi anak-anak jalanan dengan ide donasi buku bekas. Bahkan ada yang cuma bermodalkan keikhlasan untuk melakukan kebaikan-kebaikan kecil. Percayalah, kreativitas itu akan berkembang dengan sendirinya jika niatannya ikhlas. Mudah saja kan?

Apalagi di era sekarang dimana perkembangan teknologi dan informasi menjadikan semuanya menjadi sangat cepat dan mudah. Jika Superman benar-benar ada, saya rasa dia akan kalah dengan kecepatan informasi. Superman mempunyai kecepatan melebihi kecepatan peluru, namun sekarang orang bisa dengan sangat mudah menggalang dukungan hanya dengan hastag ‘#’. Superman punya penglihatan X-ray yang bisa melihat tembus apa pun, namun masih kalah cepat dengan mesin pencari Google. Keberadaan Superman di era digital mungkin sudah tidak diperlukan lagi selain tokoh fiksi. Toh, anak kecil sekarang sudah tidak heran lagi melihat yang terbang-terbang kayak gituan. Imajinasinya seolah sudah terpenuhi oleh efek-efek CGI. Saya termasuk orang yang sangat bersyukur dilahirkan di tahun 80-an :)

Salam Hore!

Ogut (nama disamarkan) Fans berat Superman

*)Ditayangkan di Katalog Pinasthika 2015, Syafa’aat Marcomm Agency Partner Pinasthika 2013, 2014, 2015