Untitled-1

The Strategic Planner

Apa itu Strategic Planner? Mungkin istilah tersebut masih terdengar asing di telinga orang awam. Sebenernya ketidaktahuan tersebut bisa dimaklumi, karena istilah ini memang baru populer digunakan di pertengahan tahun 2000. Namun, bagi Anda yang sudah berpengalaman di bidang marketing communication atau advertising agency, pasti merasa familiar dengan istilah itu. Ya, secara garis besar istilah ini merujuk pada bidang pekerjaan yang fokus dengan perancangan konsep strategi komunikasi pemasaran secara integratif.

Secara deskripsi pekerjaan, sebenarnya tanggung jawab posisi ini dahulu lebih akrab dipegang oleh orang-orang account management, khususnya Account Director dan Client Service Director yang bertanggung jawab atas strategic planning dan client servicing. Tapi seiring berjalannya waktu, dua tugas besar ini ternyata menyita banyak waktu, pikiran, dan energi. Frekuensi dan bobot kerja yang semakin meninggi membuat kedua pekerjaan ini menjadi mustahil untuk dikerjakan berbarengan. Akar masalah inilah yang akhirnya melahirkan satu posisi baru bernamakan Strategic Planner atau bisa juga disebut sebagai Stratplan.

Karena sifatnya yang terbilang masih baru, job description yang baku dari posisi ini pun belum ditentukan secara konsisten. Hal ini menyebabkan adanya variasi deskripsi pekerjaan di setiap biro iklan yang menyatutkan posisi Stratplan dalam susunan struktur organisasinya. Namun demikian, secara umum, rumusan ruang lingkup tanggung jawab seorang Stratplanner bisa digambarkan sebagai berikut:

  • Menganalisis brand profile klien beserta insights yang melingkupinya (market insights, consumer insights, competitor insights, dsb) secara komprehensif berdasarkan client brief yang sudah disusun oleh Account Executive
  • Mengidentifikasi tren pasar yang tengah berkembang
  • Merancang strategi komunikasi pemasaran integratif yang berkerangkakan pada brand analysis yang sudah dilakukan
  • Membuat creative brief berdasarkan rancangan strategi komunikasi yang telah dibuat sebagai visualisasi pesan komunikasi yang ingin dikampanyekan
  • Menjalankan proses briefing session dengan tim kreatif sekaligus mengarahkan konsep desain komunikasi visualnya
  • Melakukan creative review sebagai langkah pengecekan tentang ketersesuaian penerjemahan pesan komunikasi pada bahasa desain komunikasi visual yang telah dibuat oleh tim kreatif
  • Mempresentasikan rancangan desain komunikasi visual dan mengedukasi klien mengenai rekomendasi strategi komunikasi pemasaran yang diajukan
  • Melakukan koordinasi dan supervisi dengan klien mengenai implementasi rekomendasi langkah komunikasi pemasaran dalam suatu proses pendampingan
  • Menjadi wadah konsultasi bagi klien seputar masalah brand campaign

Jika dilihat dari rincian pekerjaan di atas, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa seorang Stratplanner berhubungan langsung dengan dua posisi, yaitu Account Executive dan Creative. Jika suatu struktur organisasi marcomm agency diibaratkan sebagai denah ruangan sebuah rumah, maka Account Executive adalah ruang tamu yang menjadi tempat untuk menerima tamu, yakni klien. Kemudian Stratplanner merupakan kamar tempat merumuskan strategi integrasi komunikasi pemasaran, sedangkan Creative adalah dapur untuk meramu desain komunikasi visualnya.

Dikarenakan pos Stratplanner  yang berada di tengah-tengah arus komunikasi antara Account Executive dan Creative, maka person in charge posisi ini setidaknya harus memiliki field of knowledge dari kedua bidang tersebut.  Ini dibutuhkan oleh Stratplanner agar ia bisa memahami proses yang tengah berlangsung dalam lalu lintas kerja sebuah tim. Bahkan di beberapa kasus pada agency yang memiliki jenjang struktur organisasi yang terbilang sempit, seorang Stratplanner juga kerap turun langsung dalam ranah pekerjaan yang berada di luar tanggung jawab posisinya, seperti copywriting, digital marketing, creative, dll.

Namun tentunya nilai inisiatif dalam merambah bidang-bidang pekerjaan tersebut juga harus dipagari oleh tanggung jawab utama Stratplanner agar tidak kehilangan fokus dalam bekerja, karena poin dari diciptakan posisi ini awalnya adalah justru supaya tidak terjadi pemecahan konsentrasi pada divisi terkait. Selain itu, hal ini juga perlu diiringi oleh kooperasi dari rekan-rekan setimnya. Jangan sampai praktik multitasking tersebut malah mengendurkan intensitas kerja dari rekan-rekannya yang lain, sehingga tidak ada keseimbangan proporsi hak dan tanggung jawab di antara masing-masing orang dalam satu proyek yang ditangani bersama-sama.

Terlepas dari segala problematika konsep multitasking yang menuntut adanya wawasan dan kapabilitas tambahan dari Stratplanner, pada intinya ia dituntut untuk memiliki kemampuan berpikir sistematis, kreatif, dan strategis. Berpikir sistematis berarti memikirkan segala sesuatu berdasarkan suatu metode tertentu secara runtut dan terstruktur, dari mulai proses analisis, sampai konsepsi rencana strategis, sehingga tertata pola hubungan yang saling koheren antara satu elemen dengan yang lainnya. Di sisi lain, berpikir kreatif dalam konteks strategic planning adalah suatu proses kontemplasi divergen yang dilakukan untuk menemukan insight baru agar tercipta keunikan pada sebuah model strategi yang dirancang, sehingga kampanye yang dilakukan terdiferensiasi dengan kompetitornya. Sedangkan berpikir strategis merupakan suatu aktivitas kognitif dalam mengartikulasikan gagasan taktis pada sebuah perencanaan integratif, baik itu untuk jangka pendek, maupun jangka panjang dengan segala dampak yang sudah ada pada kerangka perkiraan.

Sebagai konseptor, Stratplanner harus mampu membaca segala penjuru masalah yang mengelilingi brand yang sedang ditanganinya, baik itu dari segi kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan. Stratplanner diharuskan untuk dapat berpikir tidak hanya satu langkah, tapi juga dua sampai tiga langkah ke depan. Langkah pertama adalah berpikir bagaimana mendiagnosis masalah brand klien; langkah kedua ialah berpikir tentang seperti apa rekomendasi solusi serta implementasi langkah teknisnya; dan langkah ketiga adalah bagaimana perkiraan situasi yang akan dihadapi setelahnya dan seperti apa tindakan lanjutan yang harus diambil. Dengan kata lain, Stratplanner harus memiliki tiga orientasi berpikir, yaitu past oriented thinking, present oriented thinking, dan future oriented thinking.

Pada intinya, Stratplanner merupakan orang di balik layar, otak sebuah tim, dan ahli strategi yang berperan dalam merencanakan langkah-langkah strategis untuk mencapai tujuan tertentu. Mungkin hasil pekerjaan mereka tidak secara eksplisit dapat terlihat seperti produk visual yang diciptakan oleh Creative, namun efek branding yang tergambar pada kesuksesan holistik suatu brand akan mendefinisikan nilai seorang Stratplanner.

 

Penulis: Idham Hanafiah – Strategic Planner