awake on

We Do Marcomm

Munculnya banyak bisnis di Indonesia dewasa ini membawa angin segar di dunia entrepreneur di Indonesia. Hampir setiap hari muncul brand-brand baru. Dengan berbagai jenis bisnis yang dikemas secara menarik, menyesuaikan eranya. Era sosial media, trend penjualan online dan perubahan perilaku konsumen saat ini membuat munculnya brand-brand baik jasa maupun barang/produk latah untuk melakukan hal yang sama. Mereka memiliki keinginan yang bagus untuk menjadi “menjadi yang terbaik” di bidangnya. Ternyata menurut Michael Porter, Pakar Strategi dan Profesor di Harvard Business School, “menjadi yang terbaik” adalah strategi yang buruk. Porter mengatakan bahwa, “Sumber kesalahan terbesar dalam strategi adalah berkompetisi untuk menjadi yang terbaik dengan cara memilih jalan yang sama dengan semua pemain dalam industri dan berpikir bahwa Anda bisa mendapatkan hasil yang lebih baik”.

Adalah fakta di lapangan bahwa 88% perusahaan yang 50 tahun lalu ada dalam daftar Fortune 500 menghilang, raib ditelan bumi. Fakta kedua, bahwa life expectancy atau masa hidup sebuah perusahaan, yang lahir 50 tahun yang lalu adalah sampai dengan 75 tahun. Sekarang, life expectancy sebuah perusahaan yang lahir era saat ini berapa lama? Coba tebak!  Yaaaak… hanya 15 tahun saja dan itupun terus menurun. Apa sebabnya?

Karena ketika kita menginginkan untuk menjadi yang terbaik, maka akan terjebak di jalan yang sama, yang dilakukan oleh perusahaan sejenis. Bahasa bisnisnya adalah “Red Ocean”. Berdarah-darah… seluruh waktu, tenaga, dan finansial untuk bertarung di ladang yang sama. Semua berlomba untuk memiliki tampilan bagus, menarik, sedap dipandang, service yang istimewa dan memukau. Namun akhirnya terlihat generik. Dan kita tahu ketika kita fokus kepada kompetisi maka akan menggerus margin keuntungan.

Guru saya Indrawan Nugroho (co-founder Kubik) mengatakan

“Kompetisi cenderung membuat kita fokus pada satu kebutuhan spesifik yang dimiliki sekelompok orang di pasar. Lagi pula, bukankah memang itu yang dibutuhkan untuk menang bersaing? Akhirnya kita habiskan semua sumberdaya untuk bisa memenangkan persaingan merebut potongan kecil di pasar tersebut dari semua pesaing yang ada. Itulah persaingan sengit yang membuat kita berdarah-darah di saat yang sama membuat kita tak mampu melihat peluang lain di pasar yang lebih luas.”

Strategi terbaik menurut Poter adalah menjauh dari persaingan. Memilih pasar yang tidak dilihat pemain lain. Memenuhi kebutuhan yang tidak dilayani pesaing. Melakukan rangkaian aktivitas yang berbeda dari kebanyakan pemain di industri. Disitulah brand akan menemukan lautan biru yang ikannya masih banyak, dan belum ada nelayan yang nongkrong disitu mencari ikan. Manusia tidak akan habis akan kebutuhan.

Memilih untuk memiliki strategi jangka panjang dan jangka pendek adalah pilihan bagus untuk menjalankan sebuah brand. Brand baru yang banyak muncul saat ini dengan tampilan bagus memang membahagiakan kita. Sehingga tampak indah dan enak dipandang. Namun sesuatu yang terlihat bagus tidaklah cukup untuk bertahan. Strategi Marketing Komunikasi bagi UKM (Usaha Kecil dan Menengah) lebih lagi bagi UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) tampaknya masih sangat asing di telinga. Mendengar kata “strategi” saja seolah akan diberikan cara lama untuk menghasilkan dalam penjualan. Kata “Strategi” juga seolah membuat jalan bisnis menjadi rumit dan tidak simpel. Padahal justru dengan strategi markom yang kita miliki, bisnis akan mudah untuk dijalankan, nafas akan semakin panjang, termasuk untuk menyusun budget yang barangkali selama ini tiba-tiba habis untuk sesuatu yang tidak terprediksi hasilnya.

 

Bagaimana langkah-langkahnya? 

Untuk UKM lebih-lebih bagi UMKM, menggunakan cara sederhana jangka panjang & pendek bisa menjadi solusi. Tentukan Thematic (jangka panjang) campaign misalnya satu tahun. Kita temukan what to say nya apa. Apa yang ingin disampaikan termasuk bagaimana menyampaikannya (how to say). Saya pernah ditanya oleh calon klien saya.

“Gimana ya agar segera terjadi penjualan, cara mu kelamaan… masak mesti nunggu setahun trus terjadi penjualan… itu cara lama.”

Naaah ini yang kemudian saya jawab. Kita bisa menggunakan strategi tactical (jangka pendek) untuk merespon secara cepat kondisi di pasar. Seperti halnya brand activation, aktivitas untuk menggerakkan brand agar lebih dekat dengan konsumen, merasakan langsung experience produknya. Dengan menjalankan event tertentu dengan merespon tanggal merah atau hari libur nasional, atau kejadian apapun yang sedang terjadi baik hubungannya dengan berita terkini menyesuaikan target audiencenya. Baik online maupun offline. Baik strategi digital maupun analog. AISAS yang sering kita kenal sebagai Attention (A) – Interest (I) – Search (S) – Action (A) dan Share (S) bisa jadi, era nya sekarang tidak harus dengan proses berurutan seperti itu. Ketika Seseorang telah mendapatkan A bisa jadi langsung dia Share. Orang lain yang membeli, bahkan bukan dia. Kalau teori periklanan lama konsumen bisa kita atur sesuai dengan tahapan yang kita inginkan, sekarang konsumen yang mengatur. Konsumen memiliki strategi sendiri untuk membeli. Internet membuat dunia tampak flat, tidak ada sekat dan konsumen saat ini lebih cerdas.

Maka perpaduan Thematic dan Tactical saat ini adalah cara sederhana untuk melanggengkan sebuah brand. Dengan cara sederhana, dirembug bersama tim untuk menghasilkan formula sendiri yang akan dijalankan sendiri. Tentu akan lebih membahagiakan. Jalan menjadi lebih terbuka, pasar lebih terlihat, budget lebih tertata, dan aktivitas branding pun bisa lebih baik. Inilah hal  penting bagi pemilik brand untuk memiliki Marketing Communication Strategy.

 

 

Dimuat di dalam katalog resmi Pinasthika Creativestival 2016, November
@andikakerenlah