2

What You Say Is What You Are

Untuk memancarkan energi yang tinggi dalam membangun hubungan dengan target audience, beri mereka kekuatan penuh dari pesan brand yang Anda miliki, karena apa yang Anda katakan dan lakukan akan menegaskan siapa brand Anda sebenarnya.

Energi sebuah brand dapat diukur berdasarkan tingkat intensitas dan antusiasme  yang diperlihatkan saat berinteraksi dengan sasaran audiens. Bagaimana Anda menyampaikan pesan dan bagaimana audiens menerima informasi tersebut adalah refleksi kekuatan yang Brand Anda pancarkan. Tentunya pesan komunikasi yang generik seperti “Bergabunglah dengan kami”, “Kami ingin berbisnis dengan Anda”, atau “Kami memiliki apa yang anda inginkan” sangat tidak mencerminkan apa yang dimaksud dengan pesan komunikasi yang kuat. Coba apa yang Anda rasakan ketika medapatkan pesan seperti itu? Apakah pesan tersebut mampu meninggalkan jejak di benak Anda? Atau Anda hanya menjadi persinggahan sementara saja bagi pesan yang tidak berkesan itu. Pada dasarnya sebuah komunikasi yang ideal perlu dipastikan bahwa pesan yang disampaikan harus mengarah ke sasaran yang tepat, di tempat yang tepat, dan pada waktu yang tepat. Kreatifitas komunikasi yang tidak mengalihkan perhatiannya dari pesan yang dimaksud merefleksikan tingkat pemahaman audiens mengenai brand Anda. Hal tersebut juga menggambarkan bahwa pesan yang disampaikan sudah sesuai dengan positioning yang ingin diciptakan, sehingga asosiasi brand yang dimiliki mampu menghantarkan efeknya agar bisa memotivasi calon konsumen untuk mempertimbangkan pembelian produk Anda. Oleh karena itulah diferensiasi pesan komunikasi menjadi sangat penting di sini.

Sebagai contoh, kita coba telaah Batik Trusmi, yaitu salah satu klien yang sedang digarap oleh Syafa’at Marcomm. Batik Trusmi adalah sebuah brand yang ingin mengomunikasikan kekayaan budaya lokal nusantara. Visi ini digagas oleh owner muda yang mempunyai kepedulian dan idealisme yang tinggi dalam berkontribusi untuk memajukan daerahnya. Bila kita lihat dari namanya, “Batik Trusmi” memiliki konsep identitas yang umum digunakan oleh brand yang membawa label daerah seperti “Batik Jogja”, “Batik Solo”, atau “Batik Pekalongan”. Tentunya pencantuman unsur yang menunjukan nama daerah sudah terlalu generik digunakan di industri kreatif seperti ini. Imbasnya adalah banyaknya pemain bisnis sejenis yang menggunakan unsur nama yang sama. Nama “Batik Trusmi” pun menjalar digunakan oleh produsen-produsen batik di tanah Cirebon. Niat kata ingin menyoroti identitas daerah, namun apa daya yang ada adalah brand kehilangan identitas diri sendiri.

Pada akhirnya berdasarkan hasil diskusi dengan tim Syafa’at Marcomm, Batik Trusmi sepakat untuk meleburkan kata pada nama brand menjadi sebuah akronim, yakni “BT”. Nama ini pun praktis menjadi brand discriminator atau pembeda dengan kompetitor di ruang lingkup bisnis yang serupa.

Tidak berhenti sampai di situ, Syafaat juga memberikan rekomendasi mengenai tema pesan komunikasi yang ingin dikampanyekan selama satu tahun. Hal ini didasari oleh analisis komunikasi pemasaran sesuai dengan poin yang sudah dipaparkan pada alinea sebelumnya, yaitu bagaimana kekuatan pesan komunikasi dapat mempengaruhi proses pertimbangan pembelian oleh calon komunikasi. Akhirnya dari proses olah pikir yang dilakukan oleh tim Strategic Planner, maka mengerucutlah ide besar topik pesan komunikasi klien menjadi satu frasa tematik BT, yaitu “Always Batik”. Kata “Always Batik” diangkat untuk mengomunikasikan bahwa batik dapat dipakai oleh siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Komunikasi ini bertujuan untuk menghapuskan persepsi umum bahwa batik hanya dipakai oleh kalangan strata atas di tempat dan waktu yang formal saja. Batik adalah warisan budaya bangsa yang merupakan cerminan dari keindahan yang bisa dikenakan oleh siapa pun dalam setiap kesempatan dan momen sehari-hari. Ini menjadi suatu momentum bagi BT  yang hadir dengan keindahan baru dalam balutan semangat kecintaan budaya Indonesia.

Di samping dengan ide tema yang diusung, Syafa’at juga mengusulkan sebuah tagline yang dapat merepresentasikan muatan profil yang ingin ditonjolkan oleh BT mengenai segmen produk yang tidak hanya terbatas pada batik saja, tapi juga oleh-oleh khas Cirebon lainnya seperti aksesoris dan makanan ringan. Dari ringkasan ragam produk yang ditawarkan itulah akhirnya muncul kata “Terbesar dan Terlengkap” yang bermakna bahwa BT merupakan pusat destinasi produk-produk buah tangan khas lokal yang paling terbesar dan terlengkap di Cirebon.

Dari contoh kasus tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa strategi bisnis tidak hanya menyoal pada bagaimana kita menyuapi calon konsumen dengan distribusi produk secara luas saja, tapi juga bagaimana kita mengomunikasikan brand agar tercipta engagement dengan mereka. Ingat, pesan komunikasi pada strategi kampanye menunjukan brand positioning kita di mata target audience, because WHAT YOU SAY IS WHAT YOU ARE!

Kontributor:

  • Jhejhe – Account Executive
  • Idham Hanafiah – Strategic Planner